Langsung ke konten utama

Menyelami Putu Wijaya dari berbagai Sudut Pandang


Menyelami Putu Wijaya dari berbagai Sudut Pandang

Bandung selalu menjadi tempat yang mengasyikan bagi para pengunjungnya. Walaupun Bandung pada masa ini telah lebih berkembang dengan pesatnya kemajuan teknologi serta hiruk pikuk masyarakat di dalamnya. Di samping keruwetan kehidupan masyarakat Bandung, di tempat kecil kawasan Braga, yakni tepatnya di Gedung PPK/YPK tengah hangat membicarakan sastrawan besar asal Bali, yakni Putu Wijaya.
Rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Institut Nalar Jatinangor dan Second House ini bertajuk Putu Wijaya “Bertolak Dari Yang Ada” berlangsung dari tanggal 1-3 Maret 2019. Selain pameran, workshop, dan pertunjukan istimewa dari Teater Mandiri, tentunya seminar yang mengusung “Mengkaji Kreativitas Putu Wijaya” ini berlangsung menarik. Dengan pembicara yang tentunya sudah tidak asing lagi di telinga penikmat sastra, ialah Dr. Asep Salahudin, Putu Fajar Arcana, Herry Dim, dan tentunya Dr. Lina Meilinawati, dengan moderator Awang Awaludin.
Masing – masing pembicara mempresentasikan tulisannya tentang Putu Wijaya dengan sudut pandang yang berbeda – beda pula. Hal ini tentunya semakin menambah wawasan bagi para peserta seminar, karena dapat melihat Putu Wijaya dari sudut pandang yang berbeda. Acara seminar kemudian ditutup dengan closing statement dari Putu Wijaya, meskipun beliau harus ditemani oleh kursi rodanya, namun semangat dan dedikasi beliau tidak pernah surut untuk menghadiri seminar tersebut.
Asep Salahudin, seorang Cendikiawan Muslim NU (Nahdhatul Ulama), membicarakan Putu Wijaya melalui kacamata politik dan terror mental. Beliau berpendapat bahwa Putu Wijaya menulis karyanya dengan bahasa yang mengalir, sehingga kita sebagai pembacanya mampu melihat rekaman sejarah pengalaman hidup kita sehari – hari. Saya sependapat dengan apa yang ditulis oleh Asep Salahudin, karena memang seperti itu adanya bahwa karya sastra dapat mencerminkan situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat pada saat karya itu diterbitkan.
Putu Wijaya memang salah satu sastrawan yang mampu menggambarkan potret kita sebagai manusia heterogen, tidak hanya itu beliau selalu meihat hal – hal kecil yang tidak dilihat oleh manusia awam. Kemudian Asep Salahudin, mencoba melihat Putu Wijaya dari sisi politik. Beliau membahas bagaimana Putu Wijaya dapat memberikan sebuah terror mental pada setiap pembacanya. Putu mengarahkan terror bukan mengarahkannya pada tubuh, melainkan pada sesuatu yang menjadi pusat kesadaran manusia: mental.
Lalu kenapa saya bilang bahwa Asep Salahudin melihatnya dari sisi politik, karena beliau dalam tulisannya berpendapat bahwa terror mental inilah yang secara prosais dirumuskan Presiden Jokowi dalam platform Revolusi Mental. Ya, mungkin ini ada benarnya juga, karena memang pada kenyataannya seperti itu. Namun, saya sebenarnya kurang sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Asep Salahudin, karena menurut saya sebuah karya akan berkurang kualitasnya bila dikait – kaitkan dengan politik.
Dalam tulisannya, Asep Salahudin sangat terlihat jelas bahwa adalah salah satu kubu capres pada saat ini. Seperti yang beliau sebutkan bahwa pada hari ini politik dibelah dalam relasi bipolar politik kampret dan cebong, di mata kampret, petahana tak ada baiknya sama sekali. Begitu pula sebaliknya. Seperti apa yang tertulis, beliau sangat mempunyai keberpihakan terhadap salah satu capres. Namun tentnunya hal ini menambah warna dalam semaraknya seminar pada hari Sabtu (2/19) kemarin.
Berbeda halnya dengan Asep Salahudin, Putu Fajar Arcana, salah satu redaktur utama di harian Kompas, melihat kreativitas Putu Wijaya dalam sudut pandang kebaliannya. Putu Fajar Arcana berpendapat bahwa salah satu awal pemberontakan dan terror mental yang dilakukan oleh Putu Wijaya ialah dengan mengganti namanya, yang hanya membawa “Putu Wijaya” saja, ketimbang harus menggunakan nama dari silsilah keluargaya yakni I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Hal ini menunjukkan bahwa Putu Wijaya ingin melakukan terhadap tatanan kasta atau feodalisme dalam budaya masyarakat Bali. Beliau hanya ingin dianggap sebagai masyarakat pada umumnya, tidak ingin dilihat sebagai keturunan seorang bangsawan atau ksatria.
Kemudian Fajar Arcana mencermati dalam beberapa karyanya, Putu Wijaya melakukan hal yang sama, yakni memberontak terhadap tatanan budaya masyarakat Bali yang masih feodalisme bahkan sampai saat ini. Dimulai sejak Putu menulis cerpen pertama “Etsa” yang dimuat di surat kabar Suluh Marhaen tahun 1950-an, Putu tidak menggunakan nama “kebesarannya”. Fajar Arcan mengamat dua jilid novel Putri, yang menceritakan tentang kehidupan seorang raja I Gusti Ngurah Wayan Aji, yang menjadi penguasa mempunyai istri dan selir – selir yang banyak.
Kisah dalam novel ini menjadi serpih kehidupan nyata Putu Wijaya yang merupakan seorang anak dari ayah bangsawan, tetapi ibunya merupakan seorang abdi keraton. Silsilah dan kehidupan rumit dari bangsawan inilah yang membuat Putu memberontak. Fajar mengatakan bahwa “pemberontakan” yang dilakukan oleh Putu ialah pemberontakan tanpa kebencian. Memang benar seperti apa yang dilakukan oleh Putu Wijaya pada masa remaja yang memutuskan untuk menggunakan nama “Putu Wijaya” saja tanpa nama kebesarannya itu.
Selain itu, Fajar mencermati novel dan drama “Bila Malam Bertambah Malam” yang juga merupakan wujud pemberontakan dari Putu Wijaya. Relasi – relasi rumit yang absurd di antara tokohnya yang berkembang menjadi konflik – konflik tak tertanggulangi. Dua kisah panjang ini sudah memperlihatkan kebobrokan yang terjadi di balik tembok keraton yang megah. Apa yang disampaikan oleh Putu Fajar Arcana merupakan sebuah wujud bagaimana Putu Wijaya berhasil menyampaikan apa yang selama hidupnya ia resahkan, yakni bahwa kehidupan feodalisme tidaklah relevan dengan manusia mana pun.
Herry Dim seorang pelukis Indonesia yang sempat juga bersinggungan dengan Putu Wijaya semasa hidupnya, melihat kreativitas Putu Wijaya lewat kacamat dunia Teater. Herry menceritakan bahwa Putu Wijaya sebelum akhirnya beliau mendirikan Teater Mandiri tahun 1971, jauh sebelum itu Putu terlibat dan bergabung dengan Bengkel Teater milik Rendra, Teater Populer, Teater Ketjil. Menurtu Herry, manakala Putu Wijaya ikut dalam garapan pementasan Bip-Bop (1968) dan drama Menunggu Godot (1969), dua pementasan menjadi benih dan cikal bakal yang tumbuh menjadi naskah dan pementasan “Aduh”(1974/1975) serta naskah – naskah berikutnya.
Konsep “Bertolak Dari Yang Ada” yang menjadi dasar awal terbentuknya Teater Mandiri ialah bermula ketika Putu mendapatkan kesabaran, ketelatenan, dan kesadaran bentuk yang mungkin menetes dari Teguh Karya. Hal ini pula yang kemudian menjadi dasar bagi Putu Wijaya dalam melakukan proses kreatifnya. Seperti yang Putu Wijaya sendiri kemukakan dalam Workshop pada hari Minggu (3/3) siang, beliau mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada itu tidak ada, juga yang tidak ada itu sebenarnya ada, tinggal bagaimana kita dapat memanfaatkan secara maksimal apa yang ada disekitar kita, jangan menyerah pada keadaan saja. Justru dari hal inilah proses kreatif itu dapat terasah dan lahir.
Kehidupan ini absurd, sering tidak logis, tidak sesuai rencana, dan banyak kejutan yang terjadi di dalamnya. Sama halnya seperti karya – karya Putu Wijaya yang selalu memuat kejutan dan hal di luar logika (2019). Begitulah kira – kira yang Ibu Lina Meilinawati sampaikan dalam tulisannya. Saya sangat sependapat dengan yang Ibu Lina kemukakan, karena memang pada hakikatnya hidup ini adalah teka – teki, kita tidak akan pernah menduga apa yang ada di depan kita. Begitu pula dengan cerpen dan karya – karya Putu Wijaya yang menekankan pada terror – terror semacam ini untuk membuat pembaca merasalan keresahannya sendiri.
Lina Meilinawati mengambil teori feminime writing atau tulisan feminism untuk menelaah lebih lanjut karya – karya Putu Wijaya yang memiliki tulisan feminim dalam struktur cerita dan sistematika bahasa. Beliau mengemukakan bahwa keterpenggalan merupakan cirri khas dari tulisan – tulisan Putu Wijaya. Kalimat terpotong, gagasan terpelintir,aliran tulisan terintervensi menjadi ciri dalam beberapa karyanya, Putu tidak terganggu oleh konvensi bahasa (2019). Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ibu Lina Meilinawati, bahwa kemudian memang benar adanya tulisan – tulisan Putu Wijaya memiliki hal yang beliau sampaikan. Ibu Lina memberi contoh misalnya dalam cerpen Telegram.
Memang hingga pada akhirnya, kita tidak pernah sampai pada pemahaman akhir apabila membicarakan tentang Putu Wijaya. Beliau selalu menarik untuk diperbincangkan karya – karyanya dari sudut pandang mana pun. Putu Wijaya, seorang maestro, seniman serba bisa, ia seorang pelukis, dramawan, sastrwan, novelis, namun kepribadiannya sangat ramah dan rendah hati pada siapa pun. Beliau tidak pernah dan tidak mau dianggap sebagai seseorang yang didewakan oleh orang banyak. Beliau hanya melakukan yang ia sukai dan ia sadari hingga lahirlah karya – karya hebat dari buah pikirannya. Bahkan sampai saat ini, walaupun beliau harus berteman dengan kursi roda, proses kreatifnya tak pernah mati. Hanya bermodalkan telepon genggam Blackberry saja, tiap harinya minimal ia melahirkan 2 cerpen, dan 2 drapen, hanya dengan mengetik menggunakan tangan kanannya.

yang lainnya

Jum’at Siang

Ulasan "Cerita dari Digul" karya Pramoedya Ananta Toer

 

Ulasan Cerpen “Tegak Lurus Dengan Langit” karya Iwan Simatupang