Langsung ke konten utama

Postingan

Hari Raya Sebentar Lagi

Sambil membawa muatan, Supir angkot itu menyulut rokoknya Sedang dikursi belakang, Seorang pemuda tengah asik melamun Jalanan memang begitu ramai, disana - sini orang - orang kehausan minum air, orang - orang kelaparan makan apa saja Sedang dalam pikiran pemuda itu, "Apa yang harus aku berikan pada orang tuaku dikampung. Padahal hari raya tinggal 3 hari lagi."

Membungkus Harkitnas dalam mimpi guru SMP

(Ulasan Cerpen "Harkitnas" Karya Putu Wijaya) Oleh :   Rudiana Sp             Cerpen karya Putu Wijaya ini lagi – lagi dikemas berbeda. Hari Kebangkitan Nasional yang pada saat cerpen ini diterbitkan tepat 100 tahun pada tahun 2008. Latar waktu dalam cerita ini pun tepat tahun 2008. Cerpen ini dikemas berbeda karena Putu Wijaya membuat sebuah kejutan di bagian akhir cerpen ini, yang akan membuat pembaca terkejut atau tersenyum sendiri mengetahui bahwa semua cerita dari awal cerita sampai akhir, hanyalah mimpi. Ini yang membuat saya kagum pada tulisan – tulisan karya Putu Wijaya, karena beliau selalu menuangkan sebuah ide yang menjadi ciri khas di setiap cerpennya. Atau lebih dikenal dengan "teror mental".             Dalam cerpen ini sosok Ali diceritakan sebagai sosok yang sangat nasionalis, terbukti saat ia terbangun dari tidurnya dan mencoba untuk membangunk...

Ulasan Cerpen "Emak" karya Masriadi Sambo

Ulasan Cerpen “Tegak Lurus Dengan Langit” karya Iwan Simatupang

Ulasan Novel "Atheis" karya Achdiat K. Mihardja

Konflik Batin dalam Novel Burung – burung Manyar

Emansipasi dalam “Layar Terkembang” pada masa Pujangga Baru

Ulasan Puisi “Jalan Buntu” Karya S.Rukiah

Mengejar dalam Kebuntuan tak Berujung Buntu Kejaran S. Rukiah (1927-1996) Di jalan panjang, Bertemu lagi Aku dan ilham. Dia ketawa tergila-gila Mulut kuat enak mengejek Cepat kukejar Ia lari seperti binatang liar… Di jalan buntu Tertangkap ia kupegang erat Menjerit Terkejut telinga pekak. Kubanting kembali Lepas melancar lagi Menari mengawang tinggi… Di jalan buntu Buntu lagi kejaranku Darah panas melonjak kepala Dan jiwa geram menghardik: Aku belum bisa mengalahkan dia…             Pertama kali ketika saya membaca karya – karya dari S. Rukiah Kertapati ini terasa dengan jelas bahwa karya – karyanya adalah gabungan dari kelembutan dan keberanian dari seorang perempuan yang berani menelanjangi kebenaran kenyataan yang ada pada saat itu. Termasuk salah satu puisi S. Rukiah yang berjudul “Buntu Kejaran”, puisi ini seperti berkisah tentang seseorang yang mengejar orang lain atau hal lain yang did...